|
|
| |
|
|
|
Rahasia-rahasia Kamu
Hari kelima
Jakarta, SJ.
Suami kandidat wali kota dari partai PAS, Andari Purnarini, hilang secara misterius sejak 20 Juni lalu.
Subekti Supomo, yang menjabat sebagai Direktur PT Indo Global Nusa, yang membawahi beberapa perusahaan kosmetik dan makanan ini diperkirakan meninggalkan rumah pada hari Senin pukul 7 pagi.
Menurut Kapolres, Samyono, Subekti sempat terlihat menghadiri rapat direksi pada pukul 9 di Gedung Global Nusa.
Sopir Subekti mengantar majikannya itu ke kantor pukul lima sore.
“Bapak berpesan tak usah dijemput, karena akan pulang naik taksi,” kata Rudi, yang telah bekerja untuk keluarga tersebut selama sepuluh tahun.
Namun, Subekti tak kunjung pulang ke rumah.
Anehnya, ponsel dan tas kerjanya masih tersimpan rapi di ruangannya.
Ditanya mengenai kemungkinan penculikan dengan motif politik terkait dengan pencalonan Andari sebagai wali kota, Samyono tak mau menjelaskan lebih jauh.
“Jangan berspekulasi,” katanya, “kami masih mengumpulkan bukti-bukti yang berkaitan dengan peristiwa ini.
”
Dugaan penculikan ini dilontarkan oleh pengurus pusat PAS, Nana Setyadi.
“Andari bercerita bahwa dia menerima SMS dan surat kaleng berisi ancaman dan teror.
Namun, tentu saja, hal ini kami percayakan sepenuhnya kepada penyelidikan polisi,” tambahnya.
Meskipun masih mentah, dugaan penculikan bermotif persaingan politik akan menambah kisruh perseteruan antara PAS dengan partai RPD dalam Pemilihan Kepala Daerah nanti.
Bulan Mei lalu, masyarakat dikejutkan oleh terbongkarnya kasus korupsi dalam tender pengolahan sampah yang melibatkan wali kota, Bambang Kartono, yang juga merupakan kandidat kuat RPD.
Meskipun masih mengambang, mencuatnya kasus ini diduga sebagai upaya PAS untuk menjegal pencalonan kembali Bambang.
Andari Purnarini hingga saat ini menolak untuk dihubungi.
Rumahnya di perumahan mewah itu tertutup rapat.
“Ibu sedang pergi,” tutur satpam yang bertugas di depan pagar.
Andari menutup pintu ruangannya rapat-rapat.
Dia mengembuskan napas lega.
Dunia mengerut di luar sana.
Dia tak bisa bergerak leluasa.
Sejak kemarin televisi terus-menerus menayangkan wajah Bekti dan wajahnya.
Pagi ini, wajahnya menghiasi banyak media massa.
Ketua Umum PAS, Mas Sampurno, meneleponnya pagi-pagi buta.
“Wah, kamu makin ngetop, Ri.
Saya rasa, perolehan poling kita bisa naik, nih, minggu ini.
”
“Siapa yang mau ngetop dengan cara begini, Mas?”
Andari tak berpura-pura.
Kehilangan ini tak dikehendakinya.
Dia tak siap dengan simpati dan perhatian yang berlebihan, bahkan ibu dan bibinya menyempatkan diri menginap di rumahnya untuk menemaninya.
Telepon rumahnya terus berdering, membuatnya sakit kepala.
“Tak semua telepon bisa diterima,” katanya kepada Mimi, sambil menyodorkan daftar nama.
Sebagian besar penelepon itu memang hanya berbasa-basi, sekadar membagi empati, wartawan yang tak tahu diri, atau mereka yang tak cukup sibuk mengurusi diri sendiri.
“Sudahlah Bu, Ari nggak apa-apa,” kata Andari semalam, saat ibunya bersikukuh tak mau pulang.
“Ari baik-baik saja.
Ada polisi yang mengusutnya.
”
“Ya, Ibu percaya kamu.
Tapi, coba lihatlah Dena.
.
.
.
”
Andari melirik kamar Dena yang sering tertutup sejak Bekti tak ada.
“Ibu takut dia perlu teman bicara.
Dia kan sahabat ayahnya.
”
Andari memeriksa berkas laporan rapat semalam.
Semua perhatian ini tak hanya melelahkan, namun juga merepotkan.
Beberapa permintaan wawancara ditolaknya.
Pertanyaan dari teman-teman, yang mengganggu rutinitas kerja, ditampiknya halus.
Tak ada satu pertanyaan pun yang dijawab dengan gamblang.
Satu hal yang melegakannya, Rudi mau bekerja sama untuk merekayasa fakta.
“Tak seorang pun boleh tahu bahwa Bapak hilang saat keluyuran malam-malam.
Kamu harus ingat, Bapak itu pria baik-baik, bukan suami hidung belang.
”
Diajarinya Rudi mengarang cerita tentang kejadian Senin siang.
Andari ingin semua terjalin rapi, seperti rencana kampanye dan rencana hidupnya yang selama ini aman terkendali.
Untunglah, Rudi mengerti.
Beberapa puluh juta sudah disiapkannya untuk Rudi.
Andari tahu, istrinya sudah lama ingin membuka warung nasi.
“Ini bonus untuk hasil kerjamu selama ini, Rud.
Tidak ada kaitannya dengan semua kejadian ini.
”
Ini bukan konspirasi, batin Andari, hanya sedikit pelipur hati.
Sebagai politikus, dia tahu apa yang harus dilakukannya untuk menjaga citra yang dibangunnya selama ini.
Telepon rumah berdering.
Dada Andari berdegup lagi.
Mimi sedang berbelanja, tak bisa mengangkat telepon.
Sedikit gugup, Andari mengangkat gagang telepon, tak bersuara, hingga suara di seberang lebih dulu terdengar.
“Selamat pagi, Sayang.
” Dari Alex.
“Hei, bikin kaget saja.
Ada apa?”
“Memangnya harus ada alasan untuk menelepon?”
”Kamu nekat, Lex.
Berani-beraninya kamu menelepon aku pagi-pagi begini.
Bagaimana bila yang mengangkat pembantuku? Bagaimana bila Dena yang menjawab?”
“Aku kan bisa mengaku sebagai wartawan.
Kamu tak perlu takut.
Begini, aku lihat wajahmu di mana-mana.
Di koran, di televisi, di majalah.
Aku jadi kangen setengah mati padamu.
Mana mungkin kangen ini kutahan sendiri?” katanya, sambil terkekeh.
Andari menahan tawa.
Untung saja di ruangan itu tak ada cermin.
Dia tak mau melihat semu merah di wajahnya.
“Lex, tolong jangan hubungi aku lagi.
”
“Kenapa?”
“Kamu kan tahu, polisi sedang menyelidiki kasus ini.
Aku akan dipanggil sebagai saksi.
Tolong, jangan persulit aku.
”
Tak ada suara.
Namun, Andari bisa mendengar beratnya embusan napas Alex di ujung sana.
“Aku.
.
.
.
”
“Tolong aku, Lex.
.
.
.
”
“Selalu aku yang berkorban untuk kamu.
Coba lihat, apa yang sudah dia lakukan untuk kamu? Bikin puisi saja dia tidak mampu.
”
“Lex, nanti aku telepon kamu lagi, ya?”
Klik.
Gagang telepon diletakkannya.
Andari menghapus titik air di sudut mata.
Dia tak ingin jadi sentimentil.
Bukankah dia hanya ingin bermain-main?
Andari hendak mengangkat telepon, ketika didengarnya suara ribut-ribut di depan pintu.
Dari jendela, tampak Sari sedang berkacak pinggang.
Di depannya, seorang pria menenteng kamera, dan wanita berkacamata di sebelahnya, berbicara kepadanya.
Kantornya terlihat rusuh seketika.
Andari bergegas membuka pintu.
Semua mata berpaling ke arahnya.
“Ada apa ini?”
“Mereka ngotot ingin mewawancarai Ibu.
Saya sudah bilang, Ibu tak bisa ditemui tanpa membuat janji terlebih dulu.
”
Andari melirik jam tangannya.
“Saya ada waktu lima belas menit.
Kalian mau?”
Wartawan-wartawan itu menerobos masuk dengan senyum lebar.
Sari menatapnya, heran.
Andari membiarkan mereka menyiapkan kamera.
Wartawati mengambil catatannya dengan sigap, seperti tak membiarkan waktu berlalu cepat.
“Hanya sedikit pertanyaan, Bu.
”
Andari meluruskan punggungnya, otaknya bekerja keras, siap melontarkan jawaban yang diplomatis.
“Apa betul ada konspirasi politik di sini?”
Sofie Dewayani Pemenang Kedua Sayembara Mengarang Cerber femina 2006
|
|
|
|
|
|
 |